Takdir Bisa Diubah, Usaha Itu Wajib, Bersyukur Itu Mutlak

Wednesday, November 07, 2018
Lion JT610

Miaw! 😻

Jadi dulu saat semester awal ada mata kuliah agama islam, dan salah satu materinya tentang takdir. Karena cara dosen menjelaskan sangat jelas dan dulu tuh sempat saya rekam apa yang dosen bicarakan. Karena materinya berhubungan dengan kejadian yang sekarang ini sedang terjadi, jadi saya bakal bahas ini.

Rasanya sedih banget karena belum selesai kita berduka untuk Lombok dan Palu, lalu kembali dikejutkan dari kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, yang membuat hati siapapun terluka, seolah tidak ada henti-hentinya musibah demi musibah melanda negeri kita ini. Setiap melihat kabar berita di TV maupun di Youtube, rasanya masih nggak nyangka kalau kecelakaan yang saya takutkan, yang selalu terbayang-bayang diotak, ternyata terjadi. Kematian itu pasti. Semoga mereka yang berpulang ditempatkan ditempat sebaik-baiknya tempat. Dan seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Aamiin. 

Takdir bisa diubah. Takdir apa dulu?
Kejadian alam (gempa, tsunami, dll) itu termasuk takdir mubram. Manusia tidak bisa menghentikan supaya gempa atau tsunami itu tidak terjadi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian alam itu adalah takdir mubram. Matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat adalah takdir yang tidak bisa diubah. 

Nah, kemudian tentang takdir yang bisa diubah, Allah memberikan sedikit ruang bagi manusia untuk terlibat didalamnya. Contoh: masalah jodoh, rezeki, kematian. Kematian juga banyak dan itu pasti. Ketika seseorang mendapatkan kehidupan, Allah tetapkan takdir kematian juga untuk dia. Tapi, apakah dia tau kapan takdirnya? Nggak. Yang tau hanya Allah. Kapan dan dimana dia dimatikan hanya Allah yang tau. Tapi manusia terlibat dalam usaha menjaga takdir tadi.


Contoh nih. Ada orang ketika lagi sakit, dia bilang gini, "Wah sakit itu udah takdir Allah kan, kalau emang sembuh ya sembuh, mati yaudah mati aja deh". Intinya orang ini yakinnya mati gitu kan? karna dia nggak mau berusaha. Pikirannya udah pasrah aja gitu. Begitu juga orang yang makan seenaknya, nggak pernah olahraga, dll. Tau-tau kena stroke kemudian meninggal. Apa itu takdirnya dia? Belum tentu. Takdir tidak berubah, tapi karna atas tidak mensyukuri nikmat Allah. Paham nggak? Contoh lagi nih biar lebih paham. Ada ban mobil dikeluarkan oleh Jepang, kemudian ditulis takdir ban itu. Ban ini berlaku 3 tahun hidupnya. Tapi ketika dibawa ke jalan berlobang-lobang yang banyak kerikil-kerikil tajam, baru satu setengah tahun sudah pecah bannya. Apakah takdir ban tersebut yang berubah? Takdirnya tidak berubah. Kan berlaku 3 tahun. Tapi hukuman bagi orang yang tidak bisa merawat atas takdir ban tersebut. Nah begitu juga, ketika ada orang yang bisa merawat ban tersebut selama 4 tahun masih mulus. Apakah takdirnya berubah? Takdirnya tidak berubah. Itu adalah bonus atas orang yang mampu mensyukuri takdir yang ditetapkannya.

Begitu juga manusia. Dia tidak mau menjaga kesehatan akhirnya sakit. Atau ada orang yang sampai tua umur 75 tahun masih sehat, dia berolahraga dengan teratur, juga ibadahnya teratur (sholat malam, baca Al-Quran, dll), matanya masih bisa melihat begitu juga pendengarannya masih bagus. Bisa saja dulu Allah menetapkan takdir seseorang diumur 70 tahun kan? Tapi dia bisa hidup sampai sekian. Apakah takdirnya yang berubah? Takdir tidak berubah. Tapi bonus karena mampu mensyukuri atas takdir yang ditetapkannya.

Termasuk orang bunuh diri. Apakah itu takdir? Itu bukan takdir. Itu hukuman atas kedunguan dia. Kalau takdirnya bunuh diri berarti dia nggak akan masuk neraka dong? Allah itu sumber kebaikan, segala keburukan yang terjadi di dalam manusia bukan berasal dari Allah tapi berasal dari diri manusia sendiri. Begitu juga orang yang tertimpa bencana tsunami, gempa, sekalipun kecelakaan pesawat, dll. Apakah itu takdir? Apakah itu nasib? Atau cobaan? Itu takdir bagi dia sekaligus cobaan. Dari sisi dia adalah takdir, dari sisi Allah adalah cobaan yang diberikan kepada hambanya. Nah, bagi orang yang tidak meninggal itu cobaan. Dengan cobaan itu, Allah akan mengangkat derajatnya. Jadi itu takdir sekaligus cobaan bagi dia. Sedangkan bagi orang yang meninggal itu adalah takdir dia. Karna sudah tidak bisa lagi berubah.


Begitu juga persoalan rezeki (tadi kan masalah umur). Allah telah menulis sebuah Grand Design didalam Lauh Mahfudzh (tapi jangan dipahami bahwa yang dimaksud dengan Lauh Mahfuzh itu Allah mencatat kemudian ditempel di dinding). Lauh mahfudzh itu sesuatu yang tidak bersuara, tidak berhuruf tapi ada didalam Grand DesignNya. Allah menuliskan itu didalam sebuah Grand DesignNya, jadi hanya Allah yang tau.

Rezeki
Ketika Allah menciptakan manusia, Ia tetapkan rezeki bagi dia. Walau begitu, rezeki kan sudah ditetapkan. Ada kaya, miskin, jadi nggak usah berusaha, gitu kan? Jangankan itu, nasi yang udah didepan kita, kita harus tetap berusaha mengambil nasi itu dengan tangan kita untuk sampai di mulut. Begitu juga rezeki, ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah menetapkan aturan yang tetap bagi alam juga manusia dan itu namanya Sunnatullah. Berbeda dengan Nature of Law yang ada di Barat yang beranggapan bahwa alam itu menciptakan hukum bagi dirinya sendiri. Tapi Sunnatullah, Allah menciptakan aturan bagi alam. Kalau orang ingin sehat, Sunnatullahnya dengan berolahraga teratur. Kalau orang ingin pintar, Sunnatullahnya belajar dengan giat.

Contohnya lagi nih, ada sebuah masjid tanpa penangkal petir dan ada tempat prostitusi pakai penangkal petir. Kira-kira, kalau ada sambaran petir, mana yang selamat? Secara teoritis, tempat prostitusi yang selamat daripada masjid. Kenapa? Mestinya, kalau bangunan itu tinggi dan pakai menara, Sunnatullahnya pasti yang pakai penangkal petir. Persoalan nanti ada yang selamat tanpa penangkal petir itu adalah kuasa Allah, tapi apa yang menjadi tugas manusia, ya dilakukan oleh manusia. Itu kewenangan Allah.

Pak Dosen cerita, ada sahabat yang datang kepada Rasul, Ia menghadap Rasul lalu ditanya oleh Rasul:

"Kudaku mana?"

"Ya Rasul, saya sudah bertawakal kepada Allah"

Kata Rasul, "Allah tidak bertugas menjaga kuda, ikat dulu kudanya dengan kencang baru kamu bertawakal, kalau kuda lepas siapa yang akan bertanggung jawab, kamu salahkan Allah?"

Jadi intinya kita mesti usaha dulu dengan sekuat tenaga baru bertawakal kepada Allah. Kalau segala sesuatu bisa selesai dengan doa, Allah tidak akan memerintahkan Nabi Muhammad untuk Perang Badar dan Perang Uhud. Lalu kenapa Allah memerintahkan Nabi untuk perang? Bahwa didalam Islam antara ikhtiar, tawakal dan doa itu seimbang. Ikhtiar, tawakal, doa adalah bukti keseriusan manusia. Keseriusan itu yang dinilai oleh Allah. I'tikad manusia yang dinilai oleh Allah. Maka diujung I'tikad seseorang akan ada bonus.

Semoga kita bisa lebih paham setelah baca postingan ini ya. Takdir memang tidak bisa berubah tapi tergantung dari usaha dan amal kita. Apakah bonus atau hukuman yang bakal kita dapat?

See you on the next post. Bye-bye!

Miaw! 😻

Sumber gambar lion air: here

No comments:

Powered by Blogger.